Rabu, 24 Juli 2013

BAGAIMANA PEER COUNSELING ITU ?

KONSELOR SEBAYA (PEER COUNSELING) UNTUK MAHASISWA


A. LATAR BELAKANG DAN HAKEKAT PENTINGNYA KONSELOR SEBAYA (PEER COUNSELING)

Peran keluarga besar yang semakin menurun terhadap kemandirian keluarga menyebabkan disparitas peran orangtua dan mahasiswa. Kesenjangan hubungan tersebut menyebabkan mahasiswa yang berada pada tahap perkembangan remaja akhir atau deasa awal lambat dalam menemukan identitas diri akibat tuntutan kedewasaan yang semakin tinggi.
Mahasiswa yang berada dalam masa transisi antara remaja akhir dan dewasa awal membutuhkan bantuan psikologis bagi individu-individu yang berkepribadian normal agar dapat berkembang secara optimal.
Mahasiswa yang kebanyakan sudah menganggap dirinya sebagai pribadi yang dewasa pun, tidak jarang menghadapi permasalahan-permasalahan hidup. Hal ini disebabkan karena pada hakekatnya, manusia hidup selalu dihadapkan pada masalah-masalah tertentu, baik itu termasuk ke dalam kategori ringan, sedang, ataupun berat.
Dalam perkembangannya, tak selamanya masalah-masalah yang datang tersebut selalu bisa diselesaikan sendirian oleh mahasiswa yang bersangkutan. Adakalanya terdapat masalah-masalah tertentu yang tidak bisa dipecahkan sendirian, melainkan membutuhkan bantuan dari orang lain untuk membantu memecahkannya.
Kelompok sebaya, bagi mahasiswa sebagai individu, penting sekali untuk membantu mahasiswa belajar menemukan identitas diri termasuk di dalamnya pemecahan masalah. Kelompok sebaya, akan membantu mahasiswa sebagai individu untuk menjadi intermediasi agar tujuan mahasiswa yang bersangkutan dapat tercapai, sehingga terjadilah suatu alur kehidupan yang positif.
Merujuk pada hal tersebut di atas, maka kedudukan konselor sebaya diharapkan mampu mengurangi tingkat stress mahasiswa baik karena tuntutan akademik maupun non akademik, sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan diri dan memecahkan permasalahan hidupnya secara mandiri pada akhirnya.
Konselor sebaya merupakan model konseling yang mengadaptasi model pembelajaran “Tutor Sebaya”. Konselor sebaya adalah model konseling melalui optimalisasi potensi mahasiswa yang memiliki kemampuan konseling. Dalam model ini, mahasiswa yang memiliki kemampuan konseling dijadikan sumber belajar (konselor) bagi mahasiswa lain yang memiliki permasalahan-permasalahan tertentu.
Model konselor sebaya memanfaatkan peran mahasiswa untuk menjadi mitra belajar menyelesaikan masalah bagi rekan-rekan sesama mahasiswa, atau pihak lain yang hampir sama secara psikologis (sebaya).
Model ini diilhami oleh model pembelajaran co-operative learning dan collaborative learning. Melalui model konselor sebaya jarak antara mahasiswa yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan konseling (konselor), dengan masiswa yang memiliki masalah dapat didekatkan. Sehingga hambatan psikologis sosiologis yang menyebabkan masiswa tertekan dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.
Mahasiswa yang memiliki masalah akan lebih mudah berdiskusi dan bertanya kepada teman yang berkemampuan lebih (konselor). Model ini juga dapat menghindari kefrustrasian mahasiswa yang menyukai tantangan (bagi mahasiswa yang akan berperan sebagai konselor), karena mahasiswa tersebut mendapat tantangan yang lebih banyak untuk membantu teman lainnya yang kurang mampu memecahkan masalahnya sendirian. Dia merasa mendapatkan kepercayaan dan perhatian sehingga merasa lebih diberdayakan. Perasaan semacam ini diharapkan dapat memacu dan menumbuhkan semangat untuk berprestasi yang lebih baik, sehingga muncul konselor-konselor sebaya yang berkompeten.
Namun demikian, dalam praktiknya tentu saja mahasiswa yang mendapatkan label sebagai konselor sebaya, haruslah mengetahui terlebih dahulu hal-hal pokok yang perlu dilakukan dalam konseling. Mengingat, bahwa apa yang terjadi dalam konseling tidak semuanya sama seperti hal-hal yang dilakukan dalam kegiatan berbagi cerita atau curhat dalam kehidupan sehari-hari.
 
B. TUJUAN PELAKSANAAN KONSELING SEBAYA (PEER COUNSELING)
Bukan hanya psikolog atau konselor profesional yang berlatar pendidikan konseling yang bisa menjadi konselor. Mahasiswa dengan segala kemampuannya bisa diberdayakan untuk menjadi tenaga konselor semi profesional. Konselor semi profesional yang dimaksudkan adalah konselor sebaya, yang mana mahasiswa dengan keterampilan konseling, mampu memberikan bantuan untuk para mahasiswa yang lain dalam upaya penyelesaian masalah.
Tujuan konseling sebaya adalah sebagai berikut.
1. Mahasiswa dengan keterampilan konseling, akan membantu mahasiswa yang lain menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dialaminya,
2. Mahasiswa dengan keterampilan konseling, akan membantu mahasiswa yang lain untuk berkembang menjadi suatu pribadi yang sehat dan efektif,
3. Mahasiswa dengan keterampilan konseling, akan membantu mahasiswa yang lain supaya mampu melakukan perubahan-perubahan positif dalam hidupnya, serta
4. Mahasiswa dengan keterampilan konseling, akan membantu mahasiswa yang lain supaya mampu mengambil keputusan-keputusan tertentu untuk memperbaiki kualitas hidupnya.
Konseling sebaya akan memudahkan mahasiswa untuk mengoptimalisasikan kemampuan refleksi diri dan menyelami aspek-aspek psiko-sosial yang sangat bermanfaat untuk memahami kehidupan pribadinya sendiri dan kehidupan pribadi yang akan dibantunya.
 
C. PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHAN MAHASISWA
Salah satu modal utama untuk menjadi tenaga konselor semi profesional, yaitu sebagai konselor sebaya, mahasiswa harus terlebih dahulu memahami perkembangan dan permasalahan mahasiswa. Dengan memahami dua hal tersebut, maka secara tidak langsung, mahasiswa sebagai konselor sebaya bisa mengetahui latar belakang munculnya permasalahan mahasiswa, jika kelak sudah terjun menjadi konselor sebaya.
Mahasiswa dalam perspektif psikologis, dikelompokkan ke dalam masa perkembangan dewasa awal. Hal ini disebabkan karena secara psikologis, seseorang dikatakan dewasa jika berada dalam rentangan usia ntara 18 sampai 40 tahun. Sementara itu di sisi lain, mahasiswa biasanya berada dalam rentangan usia antara 17 sampai 25 tahun. Dengan demikian, dalam usia semacam ini, mahasiswa dikelompokkan ke dalam usia dewasa awal. Artinya, dalam masa perkembangan ini, mahasiswa dituntut untuk belajar berperan dan bertanggungjawab sebagai seseorang yang dewasa baik secara pribadi maupun sosial, akademis, karier, politis, maupun spiritual.
Mahasiswa sebagai kaum yang berada pada masa dewasa awal, seringkali mendapatkan beban di pundaknya yang lebih penting dan lebih berat dibandingkan pada masa-masa sebelumnya. Ketika seseorang berada pada masa SMA dan sederajat, kemungkinan besar kesalahan-kesalahan yang dilakukan masih banyak dimaklumi oleh masyarakat. Sebaliknya, mahasiswa yang sudah beranjak dewasa, mulai dikurangi toleransi dalam melakukan kesalahannya. Bersamaan dengan itu, beban dan tanggungjawab pun semakin banyak dibebankan kepadanya.
Seiring dengan perkembangan tersebut, banyak pula harapan-harapan yang riil dibebankan kepada mahasiswa. Baik itu yang berasal dari orangtua, keluarga besar, masyarakat, Universitas tempatnya menuntut ilmu, atau pihak-pihak lainnya yang berarti (significant others). Sayangnya, tidak semua harapan yang dibebankan kepada mahasiswa tersebut bisa tercapai dan dapat diwujudkan. Meskipun berbagai lembaga universiter telah banyak disediakan untuk memfasilitasi perkembangan mahasiswa, namun tetap saja tidak semuanya dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan.
Ciri-ciri mahasiswa adalah sebagai berikut.
1. Berada dalam “masa pengaturan”
Dikatakan demikian, karena menurut pandangan masyarakat begitu seseorang mulai memasuki dunia deasa, maka sama artinya dengan hilangnya kebebasan-kebebasan tertentu. Mahasiswa yang mulai memasuki masa dewasa harus lebih siap menerima tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Jika ditilik lebih lanjut, mahasiswa laki-laki mulai dituntut untuk memperhatikan pekerjaan atau kariernya di masa yang akan datang. Sedangkan, mahasiswa perempuan harus mulai belajar untuk menerima tanggung jawab sebagai calon Ibu dan pengurus rumah tangga.
2. Berada pada usia reproduktif
Mahasiswa sebagai kaum dewasa awal tentu saja sedang mengalami masa reproduktif, di mana dia siap untuk melakukan tindakan-tindakan reproduktif untuk melanjutkan keturunannya.
3. Berada pada masa “bermasalah”
Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang sering dihadapi oleh seseorang, tidak trekecuali manusia. Masalah-masalah baru ini biasanya berbeda dari masalah-masalah yang sering dihadapi selama ini. Banyak kaum muda yang dihadapkan pada banyak masalah dan mereka tidak siap untuk mengatasinya.
Beberapa alasan mengapa penyesuaian diri pada masa dewasa sulit untuk dilakukan adalah sebagai berikut.
a. Sedikit sekali kaum muda yang mempunyai persiapan untuk menghadapi jenis-jenis masalah yang perlu diatasi sebagai orang dewasa.
b. Mencoba menguasai dua atau lebih keterampilan serempak biasanya menyebabkan kedua-duanya kurang berhasil
c. Tidak memperoleh bantuan dalam menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahan mereka, tidak seperti saat mereka dianggap belum dewasa.
4. Berada pada masa “ketegangan emosional”
Ketika seseorang berada dalam suatu wilayah baru, maka secara tidak langsung ia akan berusaha untuk memahami letak tanah yang baru saja ditempatinya, mungkin pula ia akna merasa bingung dengan keberadaannya saat itu. Begitu pula dengan mahasiswa yang menjejaki lasa baru dalam hidupnya. Tidak dapat disangsikan, hal-hal semacam inilah yang sebagian mendasari munculnya permasalahan mahasiswa.
5. Berada pada masa “keterasingan sosial”
Dengan berakhirnya pendidikan formal, dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karier, pernikahan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya saat remaja pun mulai renggang. Bersamaan dengan itu, keterlibatan dalam kegiatan kelompok di luar rumah akan terus berkurang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi, semua orang muda, akan mengalami keterpencilan sosial atau keterasingan sosial.
6. Berada pada masa “komitmen”
Setelah menjadi dewasa, mahasiswa mulai mendapatkan tanggung jawab bahkan kepercayaan dari pihak lain. Dengan adanya hal ini, maka baik disadari maupun tidak, dalam kehidupan mahasiswa yang bersangkutan, akan mulai muncul berbagai komitmen-komitmen tertentu dalam hidupnya.
7. Berada pada masa “ketergantungan”
Meskipun sudah memasuki usia dewasa yang salah satu cirinya adalah kemandirian, namun tetap saja ada mahasiswa yang maih meletakkan kebergantungan dalam hidupnya. Kebergantungan tersebut biasanya kepada keluarga, sahabat, atau pihak lain dalam jangka waktu yang berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya.
8. Berada pada masa “perubahan nilai”
Banyak nilai-nilai pada masa kanak-kanak dan masa remaja yang berubah karena pola hubungan sosial yang lebih luas dengan orang-orang yang berbeda-beda dank arena nilai itu mulai dilihat dari kacamata mahasiswa yang telah memasuki usia dewasa.
9. Berada pada masa “penyesuaian diri dengan cara hidup baru”
Di antara berbagai penyesuaian diri yang harus dilakukan oleh mahasiswa selaku kaum dewasa awal, adalah penyesuaian terhadap gaya hidup. Yang paling umum adalah penyesuaian diri terhadap pola peran seks atas dasar persamaan derajat (egalitarian) yang menggantikan pembedaan pola seks tradisional, serta pola-pola baru kehidupan keluarga, termasuk perceraian, single parent, dan berbagai pola baru di lingkungan mahasiswa.
10. Berada pada masa “kreatif”
Banyak kreativitas yang muncul saat orang-orang berposisi sebagai mahasiswa. Bentuk kreativitas itupun bermacam-macam bergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya.
Dari perspektif yang lain, setiap masa perkembangan, pasti mengemban tugas-tugas perkembangan. Tugas perkembangan yang wajib diemban oleh mahasiswa dipusatkan pada harapan-harapan orangtua dan masyarakat agar mereka berhasil berprestasi dalam studi mereka. Sebagian lainnya diharapkan agar mereka segera mendapatkan pekerjaan, memilih seorang teman hidup. Sebagian yang lainnya, meskipun tidak banyak, diharapkan oleh orangtua mereka untuk belajar hidup bersama dengan suami atau isteri, membentuk suatu rumah tanggay, menerima tanggung jawab sebagai warganegara, dan bergabung dalam suatu kelompok sosial yang cocok.

Artikel Terkait Artikel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar