Kamis, 25 Juli 2013

APA DAN BAGAIMANA KONSELING TEMAN SEBAYA ?

KONSELING TEMAN SEBAYA

Pada awalnya konseling teman sebaya muncul dengan konsep dasar peer Helping yang dimulai pada tahun  1939 untuk membantu para penderita alkoholik (Carter, 2005: 2). Dalam konsep tersebut diyakini bahwa individu yang pernah kecanduan alkohol, dan memiliki pengalaman berhasil mengatasi kecanduan tersebut akan lebih efektif dalam membantu individu lain yang sedang mengatasi kecanduan alkohol. Dari tahun ke tahun konsep teman sebaya terus merambah kesejumlah seting dan isu. Konsep dasar peer helper ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Carkhuff yang mengatakan “All relationship are helping relationship. It depends on the helping skills you have” (Carkhuff, Pierce & Cannon, 1980; Aldag Mine. 2005: 20).

Pada dasarnya konseling teman sebaya merupakan suatu cara bagi siswa belajar bagaimana memperhatikan dan membantu anak lain, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Carr, 1981 : 3). Sementara itu, Tindall dan Gray (1985 : 5) mendefiisikan konseling teman sebaya sebagai suatu ragam tingkah laku membantu secara interpersonal yang dilakukan oleh individu nonprofessional yang berusaha membantu orang lain. Menurut Tindall & Gray, konseling teman sebaya mencakup hubungan membantu yang dilakukan secara individual (one-to-one helping relationship), kepemimpinan kelompok, kepemimpinan diskusi, pemberianturorial, dan semua aktivitas interpersonal manusia untuk membantu atau menolong. Definisi lain menekankan konseling teman sebaya sebagai suatu metode, seperti yang dikemukakan oleh Kan (1996: 3) “peer counseling is the use problem solving skills and active listening, to support people who are our peers”. Meskipun demikian, Kan mengakui bahwa keberadaan konseling teman sebaya merupakan kombinasi dari dua aspek yaitu teknik dan pendekatan. Berbeda dengan Tindall dan Gray, Kan membedakan antara konseling teman sebaya dengan dukungan teman sebaya (Peer Support). Menurut Kan peer support lebih bersifat umum (bantun informal: saran umum dan nasehat diberikan oleh dan untuk teman sebaya) sementara peer counseling merupakan suatu merode yang terstruktur. Menurut Kan (1996), elemen-elemen pokok dari konseling teman sebaya adalah.

Premis dasar yang mendasari konseling teman sebaya adalah bahwa pada umumnya individu mampu menemukan solusi-solusi dari berbagai kesulitan yang dialami, dan mampu menemukan cara mencapai tujuan masing-masing.

Kenyataan bahwa Peerhelper adalah seorang teman sebaya dari remaja sekolah yang menyediakan kontak diantara keduanya antara konselor sekolah dengan remaja lain, memiliki pengalaman hidup yang sama yang memungkinakan membuat rileks, memungkinkan bertukan pengalaman dan menjaga rahasia tentang apa yang dibicarakan dan dikerjakan dalam pertemuan tersebut. Terdapat kesamaan kedudukan (equality) antara Peer helper dengan konseli, meskipun peran masing-masing berbeda, mereka berbagi pengalaman dan bekerja berdampingan. Semua teknik yang digunakan dalam konseling teman sebaya membatu konseli dalam memperoleh pemahaman dan pengalaman tentang dirinya, mendorong sumber-sumber kreativitas, membantu konseli menyadari emosi, keinginan, dan kebutuhan-kebutuhannya. Keputusan tentang kapan akan memulai dan mengakhiri serta di mana akan dlakukan konseling teman sebaya, terletak pada konseli. Seorang teman sebaya dapat berupa seseorang dalam situasi atau kondisi yang sama, atau seseorang dengan usia sebaya, atau seseorang dengan latar belekang, dan budaya yang sama.

Benang merah yang dapat ditarik dari berbagai pendapat mengenai pengertian dari konseling teman sebaya adalah bahwa: a) konseling teman sebaya merupakan ragam tingkah laku saling memperhatikan dan saling membantu di antara teman sebaya, b) kegiatan saling bantu tersebut dilakukan oleh indvidu non-profesional di bidang helping, c) kegiatan tersebut berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, d) keterampilan yang dibutuhkan dalam kegiatan membantu tersebut adalah keterampilan mendengarkan secara aktif, dan keterampilan problem solving, e) kedudukan antara individu yang membantu dan individu yang dibantu adalah setara (equal) (Suwarjo, 2005: 27). Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, dalam penelitian ini peer helping dimaknai sebagai aktivitas saling membantu dan memperhatikan secara interpersonal di atanra sesama remaja sebagai siswa, yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, dengan menggunakan keterampilan mendengarkan aktif dan keterampilan problem solving, dalam kedudukan setara (equal) di antara teman sebaya tersebut.

Teman sebaya atau peers adalah anak-anak dengan tingkat kematangan atau usia yang kurang lebih sama. Konseling sebaya merupakan suatu bentuk pendidikan psikologis yang disengaja dan sistematik. Konseling sebaya memungkinkan siswa untuk memiliki keterampilan-keterampilan guna mengimplementasikan pengalaman kemandirian dan kemampuan mengontrol diri yang sangat bermakna bagi remaja secara khusus konseling teman sebya tidak memfokuskan pada proses berfikir, proses-proses perasan dan proses pengambilan keputusan. Dengan cara yang demikian, konseling sebaya memberikan kontribusi pada dimilikinya pengalaman yang kuat yang diburuhkan oleh para remaja yaitu respect. (Carr, 1981 : 4).

Kadang kala penggunaan istilah dalam menyebutkan bimbingan sebaya ini menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa orang, karena khawatir berkonotasi sama dengan istilah yang ada pada bidang helper professional. Selain itu, Beberapa orang menyebut peer helper dalam penelitian yang diangkat oleh peneliti istilahnya di generalkan menjadi peerhelper, ataupun diberbagai seting lain dikenal dengan sebutan “peer facilitation”, “peer mediation”, “peer conflict resolution”, dan “peer education”. Maka dari itu, diperlukan adanya penegasan dalam mendefinisikan istilah untuk yang menjadi sosok peer helper itu sendiri yang bukanlah merupakan bantuan professional namun termasuk pada paraprofesional ketika konseling sebaya ini berfungsi sebagai pemberi bantuan bagi seseorang yang dalam hal ini “sebaya” yang menceritakan pengalamanya, nilai yang dimilikinya, serta gaya hidup yang ada pada dirinya. Dengan demikian, paraprofessional peer counseling di anggap sebagai suatu proses dimana individu yang berbagi kesamaan dalam hal; karakteristik, keyakinan, serta nilai yang dimilikinya dengan teman sebayanya, dalam hal ini memiliki kesamaan pada pendidikan dan pengalaman hidup, serta hidup dalam populasi yang sama.

Pada kesimpulannya, meskipun ada perbedaan dalam nama, tanggung jawab, serta prosedur yang sangat terkait dengan seting pelaksanaannya namun memiliki kesamaan dalam asumsi dasar, yaitu individu dalam hal ini remaja memberikan bantuan pada remaja lainnya dengan menggunakan keterampilan komunikasi serta intrapersonal yang dimilikinya.

Konseling teman sebaya dianggap penting karena pada dasarnya sebagian besar remaja lebih sering membicarakan masalah-masalah mereka dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua, atau guru disekolah, untuk masalah yang dianggap sangat seriuspun mereka bicarakan dengan teman sebaya mereka. Apabila terdapat remaja yang akhirnya menceritakan masalah serius yang mereka alami kepada orang tua, atau guru, biasanya karena sudah terpaksa (pembicaraan dan upaya pemecahan masalah bersama teman sebaya megalami jalan buntu). Hal tersebut terjadi karena remaja memiliki keterkaitkan serta ikatan terhadap teman sebaya yang kuat. Kelekatan yang terjadi antra remaja antara lain karena remaja merasa bahwa orang dewasa tidak dapat memahami mereka dan mereka yakin bawa hanya sesama merekalah dapat saling memahami. Keadaan yang demikian sering menjadikan remaja sebagai suatu kelompok yang eksklusif. Fenomena ini muncul sebagai akibat dari berkembangnya karekterstik personal fable yang didorong oleh perkembangan kognitif dalam masa formal oprations (Steinberg, 1993: Santrock ,2004: 204). Keeratan, keterbukaan dan perasaan senasib di antara sesama remaja dapat menjadi peluang bagi upaya memfasilitasi perkembangan remaja. Pada sisi lain, beberapa karekateristik psikologis remaja (emosioal,  & labil) juga merupakan tantangan bagi layanan yang memanfaatkan peer helper.

Kerangka Pemikiran Konsep PeerHelper

Salzer and his Associates (2002. Aldag, 2005 :4) mengemukakan lima teori yang mendasari Peer Delivered services, yaitu: teori dukungan sosial, experience knowledge, helper-therapy, teori pembelajaran sosial, dan teori perbandingan sosial. Studi lain yaitu social interest yang dikemukakan oleh Adlerian menjelaskan mengenai pelatihan peer helper, bahwa dalam perkembangannya teori Adler menyatakan bahwa dengan menolong antara sesama akan meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa saling kebergantungan (Interdependence) antara individu. Pendapat lain menyetakan bahwa, dengan menolong sesamanya, individu membantu dirinya untuk mengembangkan sense of being and living (Aldag, 2005: 4).    

Terlepas dari penelitian mengenai peer helper, diperlukan adanya beberapa teori yang benar-benar menjadi dasar pengembangan dan asumsi awal mengenai peer helper. Konsep mengenai peer helper dalam Family Health International (2006; Aldag, 2005:17) mengemukakan asumsi serta dasar pengambangan peer helper, yaitu:

1) Social Learning Theory (Bandura). Dimana teori ini mengemukakan bahwa manusia merupakan model bagi manusia lainnya, dan beberapa orang (significant other) memiliki pengaruh untuk mendatangkan perubahan pada diri inidividu, baik itu secara nilai-nilainya maupun persepsi mereka,

2) Theory of Reasoned Action, menyatakan bahwa satu elemen yang paling mempengaruhi perubahan perilaku pada diri suatu individu mengenai orang lain disekitanya terletak pada bagaimana norma sosial serta persepsi yang dimiliki.

3) Diffusion of innovation Theory, menyatakan bahwa orang yang dapat dipercaya (dalam hal ini adalah pemimpin) dari suatu populasi merupakan seseorang yang membahwa perubahan pada perilaku melalui pemberian informasi, dan mempengaruhi norma dalam kelompok pada suatu komunitas

4) Health Belief Model, menjelaskan bahwa perilaku yang sehat yang ada pada diri seorang individu dirasakan pada perasaan kelemahan, kesenjangan, serta keuntungan. Karena itu, jika seseorang mendasarkan diri pada hasil yang baik, maka dirinya akan mengambil suatu hasil yang baik pula.

Berbagai macam teori yang dikemukakan di atas bukanlah menjadi sesuatu hal yang bertolak belakang antara satu dengan yang lainnya. Teori-teroi dasar yang dikemukakan merupakan suatu upaya dalam memahami konsep peer helper secara lebih mendalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar